Senin, 29 Mei 2017

konsep baik buruk

KONSEP BAIK DAN BURUK DALAM AKHLAK MUSLIM
Seorang muslim yang berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberi hak kepada yang berhak. Dia melakukan kewajibannya terhadap dirinya sendiri yang menjadi hak dirinya sendiri, terhadap Tuhannya, yang menjadi hak Tuhannya terhadap makhluk lain , terhadap sesama manusia yang menajdi hak manusia lainnya terhadap alam dan lingkungannya dan terhadap segala yang ada secara harmonis. Dia akan menempati martabat yang mulia dalam pendapat umum. Dia mengisi dirinya dengan sifat sifat terpuji, dan menjauhkan dirinya dari sifat sifatnya yang tercela, dia menempati kedudukan yang mulia secara obyektif, walaupun secara materil keadaannya sangat sederhana.
Dan sebaliknya seseorang yang berakhlak buruk, yang dalam masyarakat sering dianggap melanggar norma-norma yang berlaku, penuh dengan sifat-sifat yang tidak baik, tidak melaksanakan kewajiban yang seharusnya dikerjakannya. Seseorang yang seperti ini akan menyebabkan kerusakan terhadap yang lainnya. Analoginya seperti anggota tubuh yang terkena penyakit, seluruh badan akan merasakan sakitnya karena penyakit tersebut. Sama halnya dengan teori strukturall fungsional, dimana masyarakat merupakan suatu kesatuan yang utuh, yang mempunyai tugasnya masing-masing. Jika salah satu tidak berjalan dengan baik, maka akan mengganggu yang lainnya.

           
A.    Pengertian Baik dan Pengertian Buruk
Istilah baik dalam bahas Arab “khoir” atau “hasanah” dan “toyyibah”, dalam bahasa Inggris disebut ”good”. Istilah baik secara terminologi, ialah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Baik dalam perspektif barat sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau yang diharapkan yang memberikan kepuasan dan yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan baik dalam perspektif islma, sesuatu yang mempunyai nilai kebenran yang diharapakan manusia sesuai dengan keinginan syariat islam dan tidak berbenturan dengan fitrah manusia.
Istilah buruk dalam bahasa Arab, “assyarru” atau “alkhobits”. Dalam bahasa Inggris disebut “bad”, atau ”ugliness”. Buruk juga lawan dari tidak baik, tidak sempurna dalam kualitas. Buruk juga berarti keji, jahat,tidak bermoral, tidak etis, tidak menyenangkan, tidak dapat diterima, dan tidak disetujui. Disamping itu, buruk juga berarti semua yang tercela, lawan baik, tidak patut, tidak pantas, tidak bagus dan tidak masuk akal. Jadi, perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan denga  norma-norma masyarakat yang berlaku.
B.     Perspektif Islam tentang  Baik dan Buruk
Ukuran baik dan buruk suatu perbuatan menurut aliran manapun belum dapat dijadikan tolak ukur. Sebab belum memberikan kepastian karena bersifat subjektif, temporal, bahkan relatif. Berbeda dengan pengertian baik dan buruk menurut islam yang didasarkan pada petunjuk wahyu dan pada niat orang yang ingin melakukannya. Jika niatnya baik, maka akan mengahsilkan baik pula, meskipun menghasilkan keburukan.perbuatan dengan niat  buruk, tetap bernilai buruk, walaupun mengahasilkan kebaikan. Contohnya padi ditanam yang tumbuh pasti padi,jagung yang ditanam yang tumbuh pasti jagung. Menurut islam, penentuan baik dan buruk harus didasakan pertunjuk al-qur’an dan assunnah. Islam meletakkan persoalan baik dan buruk yang diawali dengan niat. Persoalan yang baik, akan terus berlawanan dengan yang buruk, demikian pula sebaliknya. Itu sebabnya, islam memandang bahwa landasan beraktivitas, mencari ilmu, mengajarkan ilmu kepada orang lain dan aktivitas lainnya yang mesti diawali dengan niat ikhlas yang tertanam dalam hati seseorang. Ikhlas itu ditujukan kepada Allah SWT, baik dalam ucapan maupun tindakan. Karena Allah tidak pernah menerima amal perbuatan seorang hamba-Nya kecuali apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh mengikhlaskan yang hanya kepada Allah.
Hakikat baik dan buruk, sesungguhnya diawali dengan niat ikhlas, tanpa itu amalan menjadi sia-sia, tidak akan bermanfaat dan jauh dari keberkahan. Terlihat dalam memulai sesuatu dengan niat, Allah menghendaki terhadap hamba-hamba Nya supaya dalam beraktivitas dimulai dengan niat ikhlas Lillahi Ta’ala.
C.     Ukuran Baik dan Buruk
1.      Baik dan Buruk Perspektif Hedonisme
Paham hedonisme diawali oleh aliran filsafat Yunani, khusunya pemikiran Epicurus (341-270). Menurut paham ini, yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikamatan dan kepuasan nafsu. Baik suatu perbuatan dapat dipandang, jika menghasilkan kelezatan dan kebahagiaan. Paham ini lebih mementingan kelezatan akal dan rohani daripada kelezatan jasmani. Sebab kelezatan akal dan rohani itu lebih tahan lama dan kekal daripada kelezatan jasmani. Hal ini disebut sebagai kebahagiaan diri (Egoistic Hedonism). Paham ini juga menilai agar manusia mencari kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk sesame manusia dan untuk kebahagiaan makhluk lainnya.
2.      Baik dan Buruk Perspektif Sosialisme
Menurut aliran sosialisme, baik dan buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang berpegang teguh dan mengikuti adat dianggap sebagai orang yang baik, dan otrang yang menentang dan tidak mengikuti adat istiadat dipandang buruk dan jika perlu dihukum secara adat. Jadi, kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini dikenal dengan istilah aliran sosialisme. Aliran ini beranggapan bahwa masyarakatlah yang menentukan baik buruk ya suatu tindakan dan perbuatan. Apa yang sudah menjadi kebiasaan yang dianggap baik oleh masyarakat tertentu, itulah yang baik. Demikian pula sebaliknya, jika sesuatu dianggap buruk oleh masyarakat, maka itulah yang buruk.
3.      Baik dan Buuruk Perspektif Utilitarianisme
Secara linguistic, kata utilitarianisme berasal dari kata utilis yang berarti “berguna”. Paham ini berpendapat, bahwa yang baik adalah yang berguna. Penentuan baik berdasarkan nilai guna ini, telah mendapatkan perhatian di masa sekarang, terutama di masyarakat yang materialistic. Di zaman globalisasi ini, kemajuan di bidang teknologi sangat tinggi dan banyak menarik minat banyak orang muslim sehingga kegunaanlah yang menentuka segalanya. Secara individual, paham ini perlu dikritik karena cenderung melihat nilai kegunaan. Apabila ada orang tua jompo atau pemulung sering dianggap enteng, sebab mereka tidak berguna, mereka tak perlu disapa dan dihormati.
4.      Baik dan Buruk Perspektif Evolusi
Darwin (1809-1882) mengatakan, bahwa perkembangan alam ini didasari oleh beberapa ketentuan, yaitu: (a) ketentuan alam, (selection of nature), (b) perjuangan hidup (struggle of life), (c) kekal yang lebih pantas (survival for the fittest). Paham evolusi yang dilontarkan Darwin ini, menjadikan alam dan kehidupan alam menjadi ukuran baik dan buruknya suatu perbuatan. Alexander membawa teori Darwin ini kedalam kajian moral. Menurutnya, moral juga harus berkompetisi dengan nilai nilai lainya. Nilai moral yang bisa bertahan itulah nilai baik, sedangkan nilai lain yang tidak bertahan, ia akan dipandang buruk. Jadi, nilai moral yang baik adalah nilai yang muncul bersama nilai-nilai lainnya sesuai dengan perkembangan zaman dan kultur budaya.
5.      Baik dan Buruk Persfektif Regionalisme
Aliran ini memandang, bahwa segala kegiatan baik  sesuai dengan kehendak Tuhan. Sedangkan, perbuatan yang buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bisa dilihat dari kitab suci agama masing-masing. Dalam kitab suci masing-masing agama, satu sisi dapat dipandang sama dalam menentukan nilai. Di satu, berbeda pandangan dalam menentukan baik dan buruk. Dapat dipertegas bahwa di dunia ini terdapat bermacam-macam agama, dan dalam agama yang sama pun ada beberapa aliran atau madzhab. Agama Hindu, Buddha, Yahudi, Nasrani dan Islam. Masing-masing agama memiliki persfektif dan tolak ukur tentang baik dan buruk yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.perbedaan yang paling kenatara dalam menentukan baik dan buruk, misalnya tentang poligami, mengonsumsi makanan dan minuman, hubungan suami istri,cara berpakaian dan sebagainya.
6.      Baik dan Buruk Persfektif Vitalisme
Baik menurut paham ini adalah kekuatan dan kekuasaan dalam kehidupan manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang dapat menaklukan orang lain, yang lemah dan bodoh dianggap perilaku baik. Paham ini  juga lebih cenderung pada   sikap hewan, dan hukum/peraturan siapa yang kuat akan dipandang baik. Jadi, sistem dan hukum yang diberlalkukan akan selalu menginjak yang lemah, dan yang lemah itulah yang buruk dan yang kuat itulah yang baik. Paham ini pernah dipraktikan oleh beberapa penguasa pada zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah dan bodoh. Kekuasaan dan kekuatan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati dan dimuliakan.
7.       Baik dan Buruk Persfektif Intuisisme
Baik menurut paham intuisisme, selalu diukur melalui kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu yang baik dan yang buruk dengan bersifat sementara tanpa melihat hasil dan akibatnya.  Paham intuisisme juga biasa disebut paham Humanisme,  dimana kekuatan batin dan kata hati merupakan potensi ruhaniah yang dibawa sejak terlahirnya seorang individu. Namun apa kata hati yang sebebas itu dalam menentukan baik dan buruk belum dapat diterima oleeh semua paham. Sebab, manusia selalu dipengaruhi potensi lain, dan dipengaruhi oleh lingkungannya dalam menentukan baik dan buruk.
Menurut paham humanism (intuisisme) ini, bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batin untuk membedakan yang baik dan yang buruk dengan sekilas pandang. Kekuatan batin ini, terkadang berbeda dengan refleksi dan perbuatan yang disebabkan  pengaruh waktu dan lingkungannya. Oleh sebab itu, kebanyakan manusia sepakat mengenai baik, seperti benar, dermawan, berani keramahan dan semua manusia bersepakat menilai buruk terhadap perbuatan yang salah, seperti kikir, pemarah, pengecut dan sebagainya. Penentuan baik buruk perbuatan melalui kata hati yang dibimbing oleh intuisi.
Menurut Poedjawijatna, bahwa paham humanism ini, yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia. Dengan demikian, ukuran baik dan buruk suatu perbuatan menurut aliran ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia dan tidak menentang kepuasan hati manusia.
Jadi, penentuan baik dan buruk yang berdasarkan intuisi ini dapat menghasilkan penentuan baik dan buruk secara universal atau berlaku pada semua orang. Karena manusia seberapa tinggi status sosialnya yang ia sandang, ras, agama yang berbeda. Tetapi potensi hati nuraninya adalah sama. Yang membedakannya, hanya pada bagaimana hati nurani tersebut mampu menyikapi segala sesuatu. Semakin tinggi spiritual dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi pula hati nurani dalam menyikapi persoalan baik dan buruk suatu perbuatan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar