KONSEP BAIK DAN BURUK DALAM AKHLAK MUSLIM
Seorang muslim yang
berakhlak mulia, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberi hak kepada
yang berhak. Dia melakukan kewajibannya terhadap dirinya sendiri yang menjadi
hak dirinya sendiri, terhadap Tuhannya, yang menjadi hak Tuhannya terhadap
makhluk lain , terhadap sesama manusia yang menajdi hak manusia lainnya
terhadap alam dan lingkungannya dan terhadap segala yang ada secara harmonis.
Dia akan menempati martabat yang mulia dalam pendapat umum. Dia mengisi dirinya
dengan sifat sifat terpuji, dan menjauhkan dirinya dari sifat sifatnya yang
tercela, dia menempati kedudukan yang mulia secara obyektif, walaupun secara
materil keadaannya sangat sederhana.
Dan sebaliknya
seseorang yang berakhlak buruk, yang dalam masyarakat sering dianggap melanggar
norma-norma yang berlaku, penuh dengan sifat-sifat yang tidak baik, tidak
melaksanakan kewajiban yang seharusnya dikerjakannya. Seseorang yang seperti
ini akan menyebabkan kerusakan terhadap yang lainnya. Analoginya seperti
anggota tubuh yang terkena penyakit, seluruh badan akan merasakan sakitnya
karena penyakit tersebut. Sama halnya dengan teori strukturall fungsional,
dimana masyarakat merupakan suatu kesatuan yang utuh, yang mempunyai tugasnya
masing-masing. Jika salah satu tidak berjalan dengan baik, maka akan mengganggu
yang lainnya.
A.
Pengertian
Baik dan Pengertian Buruk
Istilah baik
dalam bahas Arab “khoir” atau “hasanah” dan “toyyibah”, dalam bahasa Inggris disebut ”good”. Istilah baik secara terminologi, ialah sesuatu yang telah
mencapai kesempurnaan. Baik dalam perspektif barat sesuatu yang mempunyai nilai
kebenaran atau yang diharapkan yang memberikan kepuasan dan yang sesuai dengan
keinginan. Sedangkan baik dalam perspektif islma, sesuatu yang mempunyai nilai
kebenran yang diharapakan manusia sesuai dengan keinginan syariat islam dan
tidak berbenturan dengan fitrah manusia.
Istilah buruk
dalam bahasa Arab, “assyarru” atau “alkhobits”. Dalam bahasa Inggris
disebut “bad”, atau ”ugliness”. Buruk juga lawan dari tidak
baik, tidak sempurna dalam kualitas. Buruk juga berarti keji, jahat,tidak
bermoral, tidak etis, tidak menyenangkan, tidak dapat diterima, dan tidak
disetujui. Disamping itu, buruk juga berarti semua yang tercela, lawan baik,
tidak patut, tidak pantas, tidak bagus dan tidak masuk akal. Jadi, perbuatan
buruk berarti perbuatan yang bertentangan denga
norma-norma masyarakat yang berlaku.
B.
Perspektif
Islam tentang Baik dan Buruk
Ukuran baik dan
buruk suatu perbuatan menurut aliran manapun belum dapat dijadikan tolak ukur.
Sebab belum memberikan kepastian karena bersifat subjektif, temporal, bahkan
relatif. Berbeda dengan pengertian baik dan buruk menurut islam yang didasarkan
pada petunjuk wahyu dan pada niat orang yang ingin melakukannya. Jika niatnya
baik, maka akan mengahsilkan baik pula, meskipun menghasilkan
keburukan.perbuatan dengan niat buruk,
tetap bernilai buruk, walaupun mengahasilkan kebaikan. Contohnya padi ditanam
yang tumbuh pasti padi,jagung yang ditanam yang tumbuh pasti jagung. Menurut
islam, penentuan baik dan buruk harus didasakan pertunjuk al-qur’an dan
assunnah. Islam meletakkan persoalan baik dan buruk yang diawali dengan niat.
Persoalan yang baik, akan terus berlawanan dengan yang buruk, demikian pula
sebaliknya. Itu sebabnya, islam memandang bahwa landasan beraktivitas, mencari
ilmu, mengajarkan ilmu kepada orang lain dan aktivitas lainnya yang mesti
diawali dengan niat ikhlas yang tertanam dalam hati seseorang. Ikhlas itu
ditujukan kepada Allah SWT, baik dalam ucapan maupun tindakan. Karena Allah
tidak pernah menerima amal perbuatan seorang hamba-Nya kecuali apabila
dilakukan dengan sungguh-sungguh mengikhlaskan yang hanya kepada Allah.
Hakikat baik dan
buruk, sesungguhnya diawali dengan niat ikhlas, tanpa itu amalan menjadi
sia-sia, tidak akan bermanfaat dan jauh dari keberkahan. Terlihat dalam memulai
sesuatu dengan niat, Allah menghendaki terhadap hamba-hamba Nya supaya dalam
beraktivitas dimulai dengan niat ikhlas Lillahi
Ta’ala.
C.
Ukuran
Baik dan Buruk
1.
Baik
dan Buruk Perspektif Hedonisme
Paham hedonisme diawali oleh aliran filsafat Yunani,
khusunya pemikiran Epicurus (341-270). Menurut paham ini, yang baik adalah
perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikamatan dan kepuasan nafsu.
Baik suatu perbuatan dapat dipandang, jika menghasilkan kelezatan dan
kebahagiaan. Paham ini lebih mementingan kelezatan akal dan rohani daripada
kelezatan jasmani. Sebab kelezatan akal dan rohani itu lebih tahan lama dan
kekal daripada kelezatan jasmani. Hal ini disebut sebagai kebahagiaan diri (Egoistic Hedonism). Paham ini juga
menilai agar manusia mencari kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk sesame
manusia dan untuk kebahagiaan makhluk lainnya.
2.
Baik
dan Buruk Perspektif Sosialisme
Menurut aliran
sosialisme, baik dan buruk ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku
dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang berpegang teguh dan mengikuti
adat dianggap sebagai orang yang baik, dan otrang yang menentang dan tidak
mengikuti adat istiadat dipandang buruk dan jika perlu dihukum secara adat.
Jadi, kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini
dikenal dengan istilah aliran sosialisme. Aliran ini beranggapan bahwa
masyarakatlah yang menentukan baik buruk ya suatu tindakan dan perbuatan. Apa
yang sudah menjadi kebiasaan yang dianggap baik oleh masyarakat tertentu,
itulah yang baik. Demikian pula sebaliknya, jika sesuatu dianggap buruk oleh
masyarakat, maka itulah yang buruk.
3.
Baik
dan Buuruk Perspektif Utilitarianisme
Secara linguistic, kata utilitarianisme berasal dari
kata utilis yang berarti “berguna”. Paham ini berpendapat, bahwa yang baik
adalah yang berguna. Penentuan baik berdasarkan nilai guna ini, telah
mendapatkan perhatian di masa sekarang, terutama di masyarakat yang
materialistic. Di zaman globalisasi ini, kemajuan di bidang teknologi sangat
tinggi dan banyak menarik minat banyak orang muslim sehingga kegunaanlah yang
menentuka segalanya. Secara individual, paham ini perlu dikritik karena
cenderung melihat nilai kegunaan. Apabila ada orang tua jompo atau pemulung
sering dianggap enteng, sebab mereka tidak berguna, mereka tak perlu disapa dan
dihormati.
4.
Baik
dan Buruk Perspektif Evolusi
Darwin
(1809-1882) mengatakan, bahwa perkembangan alam ini didasari oleh beberapa
ketentuan, yaitu: (a) ketentuan alam, (selection
of nature), (b) perjuangan hidup (struggle
of life), (c) kekal yang lebih pantas (survival
for the fittest). Paham evolusi yang dilontarkan Darwin ini, menjadikan
alam dan kehidupan alam menjadi ukuran baik dan buruknya suatu perbuatan.
Alexander membawa teori Darwin ini kedalam kajian moral. Menurutnya, moral juga
harus berkompetisi dengan nilai nilai lainya. Nilai moral yang bisa bertahan
itulah nilai baik, sedangkan nilai lain yang tidak bertahan, ia akan dipandang
buruk. Jadi, nilai moral yang baik adalah nilai yang muncul bersama nilai-nilai
lainnya sesuai dengan perkembangan zaman dan kultur budaya.
5.
Baik
dan Buruk Persfektif Regionalisme
Aliran ini
memandang, bahwa segala kegiatan baik
sesuai dengan kehendak Tuhan. Sedangkan, perbuatan yang buruk adalah
perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan bisa dilihat
dari kitab suci agama masing-masing. Dalam kitab suci masing-masing agama, satu
sisi dapat dipandang sama dalam menentukan nilai. Di satu, berbeda pandangan
dalam menentukan baik dan buruk. Dapat dipertegas bahwa di dunia ini terdapat
bermacam-macam agama, dan dalam agama yang sama pun ada beberapa aliran atau
madzhab. Agama Hindu, Buddha, Yahudi, Nasrani dan Islam. Masing-masing agama
memiliki persfektif dan tolak ukur tentang baik dan buruk yang satu dengan yang
lainnya berbeda-beda.perbedaan yang paling kenatara dalam menentukan baik dan
buruk, misalnya tentang poligami, mengonsumsi makanan dan minuman, hubungan
suami istri,cara berpakaian dan sebagainya.
6.
Baik
dan Buruk Persfektif Vitalisme
Baik menurut
paham ini adalah kekuatan dan kekuasaan dalam kehidupan manusia. Kekuatan dan
kekuasaan yang dapat menaklukan orang lain, yang lemah dan bodoh dianggap
perilaku baik. Paham ini juga lebih
cenderung pada sikap hewan, dan
hukum/peraturan siapa yang kuat akan dipandang baik. Jadi, sistem dan hukum
yang diberlalkukan akan selalu menginjak yang lemah, dan yang lemah itulah yang
buruk dan yang kuat itulah yang baik. Paham ini pernah dipraktikan oleh beberapa
penguasa pada zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah dan bodoh. Kekuasaan
dan kekuatan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati dan dimuliakan.
7.
Baik dan Buruk Persfektif Intuisisme
Baik menurut
paham intuisisme, selalu diukur melalui kekuatan batin yang dapat menentukan
sesuatu yang baik dan yang buruk dengan bersifat sementara tanpa melihat hasil
dan akibatnya. Paham intuisisme juga
biasa disebut paham Humanisme, dimana
kekuatan batin dan kata hati merupakan potensi ruhaniah yang dibawa sejak
terlahirnya seorang individu. Namun apa kata hati yang sebebas itu dalam
menentukan baik dan buruk belum dapat diterima oleeh semua paham. Sebab,
manusia selalu dipengaruhi potensi lain, dan dipengaruhi oleh lingkungannya
dalam menentukan baik dan buruk.
Menurut paham
humanism (intuisisme) ini, bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan naluri batin
untuk membedakan yang baik dan yang buruk dengan sekilas pandang. Kekuatan
batin ini, terkadang berbeda dengan refleksi dan perbuatan yang disebabkan pengaruh waktu dan lingkungannya. Oleh sebab itu,
kebanyakan manusia sepakat mengenai baik, seperti benar, dermawan, berani
keramahan dan semua manusia bersepakat menilai buruk terhadap perbuatan yang
salah, seperti kikir, pemarah, pengecut dan sebagainya. Penentuan baik buruk
perbuatan melalui kata hati yang dibimbing oleh intuisi.
Menurut
Poedjawijatna, bahwa paham humanism ini, yang baik adalah yang sesuai dengan
kodrat manusia. Dengan demikian, ukuran baik dan buruk suatu perbuatan menurut
aliran ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia dan tidak
menentang kepuasan hati manusia.
Jadi, penentuan
baik dan buruk yang berdasarkan intuisi ini dapat menghasilkan penentuan baik
dan buruk secara universal atau berlaku pada semua orang. Karena manusia
seberapa tinggi status sosialnya yang ia sandang, ras, agama yang berbeda.
Tetapi potensi hati nuraninya adalah sama. Yang membedakannya, hanya pada
bagaimana hati nurani tersebut mampu menyikapi segala sesuatu. Semakin tinggi
spiritual dan ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi
pula hati nurani dalam menyikapi persoalan baik dan buruk suatu perbuatan.